Custom Search
Tampilkan postingan dengan label ILMU RESEP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU RESEP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 25, 2009

PENARIKAN (EXTRACTIO)

PENARIKAN (EXTRACTIO)

Extractio adalah cara menarik obat satu atau lebih zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak bebuah.

Tujuan extractio adalah untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari yang tidak berfaedah, agar lebih mudah digunakan dalam pengobatan

Suhu-suhun penarikan adalah :

  • Maserasi : 15-250C
  • Digerasi : 35-450C
  • Infudasi : 90-980C
  • Memasak: pada suhu mendidih

Cara menghilangkan isi simplisia yang tak berguna :

  1. memakai pelarut yang zat berkhasiatnya larut, sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari
  2. dengan menarik atau merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya.
  3. dengan menggunakan jarak waktu menarik, dimana zat berkhasiat lebih banyak larutnya.
  4. dengan memurnikan atau membersihkan memakai cara-cara tertentu baik cara alam maupun cara kimia

Senin, April 06, 2009

EMULSI

EMULSI

Emulsi adalah sistem dua fase,yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain,dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa,sistem ini di sebut minyak dal;am air. Sebaliknya,jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak sebagai fase pembawa, sitem ini di sebut emulsi air dalam minyak.

Emulsi dapat di stabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi suatu fase tunggal yang memisah (Anonim,1995). Emulsi merupakan preparat farmasi yang terdiri 2 atau lebih zat cair yang sebetulmya tidak dapat bercampur (immicible) biasanya air dengan minyak lemak. Salah satu dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/emulsifiying/surfactan). Sedang menurut FI edisi ke III, emulsi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larut obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi tau surfactan yang cocok.

Dalam batas emulsi, fase terdispersi dianggap sebagai fase dalam dan medium disresi sebagai fase luar atau kontinu. Emulsi yamg mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “m/a”. sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air dalam minyak dan dikenal sebagai emulsi “a/m”. karena fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu, suatu emulsi minyak dalam air diencerkan atau ditambahkan dengan air atau suatu preparat dalam air. Umumnya untuk nembuat emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian dari emulsi,yakni: zat pengemulsi (emilsifiying agent). Tergantung pada konstituennya, viskositas emulsi dapat sangat bervariasi dan emulsi farmasi bisa disiapkan sebagai cairan atau semisolid (setengah padat) (Ansel,1989). Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan,gelatin,sapo,dll. Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur.

Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah di tuang hingga krim setengah padat. Umumnya krim minyak dalam air dibuat poada suhu tinggi,berbentuk cair pada suhu ini,kemudian di dinginkan pada suhu kamar,dan menjadi padat akibat terjadinya solidifikasi fase internal. Dalam hal ini tidak di perlukan perbandingan volume fase external yang tinggi untuk menghasilkan sifat setengah padat,misalnya krim stearat atau krim pembersih adalah setengah padat dengam fase internal hanya 15%. Sifat setengah padat emulsi air dalam minyak,biasanya diakibatkan oleh fase external setengah padat (anonim).

Polimer hirofilik alam semisintetik dan sintetik dapat digunakan bersama surfakatan paada emulsi minyak dalam air karena akan terakumulasi pada antar permukaan dan juga meningkatkan kekentalan fasev air,sehingga mengurangi kecepatan pembentukan agregat tetesan. Agregasi biasanya di ikuti dengan pemisahan emulsi yang relatif cepat menjadi fase yang kaya akan butiran dan yang miskin akan tetesan. Cara normal kerapatan minyak lebih rendah dari pada kerapatan air,sehingga jika tetesan minyak dan agregat tetesan meningkat terbentuk krim. Makin besar agregasi,makin besar ukuran tetesan dan makin besar pula kecepatan pembuntukan krim.

Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawetan sangat penting untuk emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase external mudah terjadi. Karena jamur dan ragi lebih sering di temukan daripada bakteri,lebih di perlukan yang besifat fungistatik atau bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan bahan pengemulsi ionik dan nonionik,gliserin dan sejumlah bahan pengemulsi alam seperti tragakan dan gom.

Komponen utama emulsi berupa fase disper(zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase internal)). Fase kontinyu (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar pendukung dari emulsi tersebut (fase external).dan emulgator (zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi). Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external,maka emulsi di golonakan menjadi 2: emulsi tipe w/o (emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar ke dalam minyak, air berfugsi sebagai

SUSPENSI

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan, endapan harus terdispersi kembali. Dapat di tambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah di gojog dan dituang.

Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel terdispersi ( derajat pembasahan partikel ), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen – komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan. Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan mudah dituang. Pada etiket harus tertera “Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup baik dan disimpan di tempat yang sejuk “.

Keuntungan Sediaan Suspensi

1. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat .

2. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.

3. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.


Kerugian Bentuk Suspensi

1. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.

2. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.

3. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .

Pembasahan Partikel

Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut di dalam cairan pembawa adalah langkah yang penting. kadang – kadang adalah sukar mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain – lain kontaminan .

Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ–nya besar mereka mengambang pada permukaan cairan.

Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan di bawah permukaan cairan.

Serbuk dengan sudut kontak ± 90 ْ akan menghasilkan serbuk yang terapung keluar dari cairan. Sedangkan serbuk yang mengambang di bawah cairan mempunyai sudut kontak yang lebih kecil dan bila tenggelam, menunjukkkan tidak adanya sudut kontak .

Serbuk yang sulit dibasahi air , disebut hidrofob , seperti sulfur , carbo adsorben, Magnesii Stearat dan serbuk yang mudah dibasahi air disebut hidropofil seperti toluen , Zincy Oxydi , Magnesii Carbonas .

Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan (wetting agent) adalah sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak , pembasahan akan dipermudah.

Gliserin dapat berguna di dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan memindahkan udara diantara partikel – partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus dan membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur dengan air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu partikel dengan gliserin, propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan air (IMO, 152).

Sistem Pada Pembuatan Suspensi

1. Sistem Deflokulasi

2. Sistem Flokulasi

Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan pada sistem Deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan – lahan dan akhirnya akan membentuk sendimen dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali (Farmasetika , 163).

Cara Pembuatan Suspensi

Suspensi dapat di buat dengan menggunakan 2 metode, yaitu :

1. Metode Dispersi

2. Metode Presipitasi (Pengendapan), metode ini di bagi lagi menjadi 3 macam , yaitu :

a. Presipitasi dengan pelarut organik

b. Presipitasi dengan perubahan pH dari media

c. Presipitasi dengan dokomposisi rangkap

1. Metode Dispersi

Serbuk yang terbagi halus, didispersi didalam cairan pembawa. Umumnya sebagai cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting adalah partikel-partikel harus terdispersi betul di dalam air, mendispersi serbuk yang tidak larut dalam air, kadang – kadang sukar. Hal ini di sebabkan karena adanya udara, lemak dan lain – lain kontaminan pada permukaan serbuk . ( Farmasetika , 165 )

2. Metode Presipitasi

Dengan pelarut organik dilakukan dengan zat yang tidak larut dalam air,dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang dapat dicampur dengan air, lalu ditambahkan air suling dengan kondisi tertentu. Pelarut organik yang digunakan adalah etanol, methanol, propilenglikol dan gliserin. Yang perlu diperhatikan dengan metode ini adalah control ukuran partikel, yaitu terjadinya bentuk polimorf atau hidrat dari kristal (Farmasetika , 165).


2.1 Pengertian

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.

Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :

1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral.

2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.

3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.

4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.

6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.

2.2 Stabilitas Suspensi

Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :

1. Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.

2. Kekentalan/Viskositas

Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum ” STOKES”

Ket :

V = Kecepatan Aliran

d = Diameter Dari Partikel

p = Berat Jenis Dari Partikel

p0 = Berat Jenis Cairan

g = Gravitasi

Å‹ = Viskositas Cairan


3. Jumlah Partikel /Konsentrasi

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.

Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

4. Sifat/Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.

Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

1. Bahan Pensuspensi Dari Alam

Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom/hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri.

a. Termasuk golongan gom :

Contonya : Acasia (Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin

b. Golongan bukan gom :

Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.

2. Bahan Pensuspensi Sintesis

a. Derivat Selulosa

Contohnya : Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.

b. Golongan organk polimer

Contohnya : Carbaphol 934.

2.3 Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi

1. Metode Pembuatan Suspensi

Suspensi dapat dibuat dengan cara :

· Metode Dispersi

· Metode Precipitasi

2. Sistem Pembentukan Suspensi

· Sistem flokulasi

· Sistem deflokulasi


Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :

1. Deflokulasi

· Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.

· Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.

· Sediaan terbentuk lambat.

· Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi.

2. Flokulasi

· Partikel merupakan agregat yang basa

· Sedimentasi terjadi begitu cepat

· Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula.

2.4 Formulasi Suspensi

Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :

· Pada penggunaan ”Structured Vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.

· Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.

Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :

· Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.

· Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer.

· Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.

· Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.

· Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

2.5 Penilaian Stabilitas Suspensi

1. Volume Sedimentasi

Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.

2. Derajat Flokulasi

Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).

3. Metode Reologi

Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.

4. Perubahan Ukuran Partikel

Digunakan cara freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.